Ketika aku masih menjadi kepompong.Terbayang betapa senangnya apabila aku bisa terbang.Ketika aku harus mulai berjuang.Melalui proses berat melewati sebuah lubang.Sangat berat memang.Aku mencoba berjuang dan sebagian kecil tubuhku berhasil melewati lubang,oh rasanya lelah sekali dan aku berhenti sejenak.
Saat itu tampaknya seorang manusia mengamatiku.Tampaknya ia kasihan padaku dan ingin menolongku.Lubangku dikuakkan.Pikirnya membuatku lebih gampang.
Ah…memang gampang.Tidak usah berjuang.Tidak usah susah-susah keluar.Dan keluarlah aku ke dunia lapang.
Tetapi mengapa aku tidak bisa terbang?Ternyata,cairan tubuhku yang Tuhan siapkan untuk sayap-sayapku berfungsi,baru bisa berfungsi kalau lubang itu kulewati.Dan pertolongan itulah yang melumpuhkanku.Sekarang aku hanya bisa merangkak.Merangkak sebagai kupu-kupu yang lumpuh sepanjang masa

Begitulah dongeng tentang kupu-kupu yang lumpuh.Terkadang bantuan seseorang itu membuat kita terlena.Seperti kita ketahui,hidup adalah belajar.Mempelajari apa yang dilihat dan dirasakan.Belajar merupakan sebuah proses.Sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu dari salah menjadi benar,dari gelap menjadi terang.
Kepompong yang seharusnya berjuang untuk menjadi kupu-kupu yang bisa terbang,karena bantuan orang,malah menyebabkan dia menjadi kupu-kupu yang tidak bisa terbang.Untuk bisa terbang,kepompong harus melalui sebuah proses berjuang,tidak secara instan.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari dongeng kupu-kupu tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber